Takut Ketahuan KPK, Kontraktor di Jambi Bakar Bukti Catatan Keuangan

by

 

TERVIRAL.INFO – Gubernur non aktif Jambi, Zumi Zola pada JUMAT (7/9) kemarin kembali mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Zumi didakwa dengan dua perbuatan tindak korupsi yakni menerima aliran dana gratifikasi dan mendorong agar bawahannya menyuap anggota DPRD supaya perubahan anggaran segera diloloskan.

Dalam persidangan yang digelar pada Kamis kemarin, jaksa menghadirkan 10 saksi. Satu di antaranya adalah pengusaha di bidang infrastruktur, Muhammad Imaddudin atau yang akrab disapa Iim.

Iim diminta oleh Zumi untuk mengumpulkan uang suap dari para kontraktor. Tujuannya, uang-uang itu akan digunakan untuk membiayai kehidupan Zumi dan keluarganya.

Di ruang sidang, Iim mengaku mencatat seluruh penerimaan uang dari para kontraktor yang menjadi rekanan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Provinsi Jambi. Namun, buku itu dibakar oleh Iim. Lho kenapa?

1. Buku berisi catatan keuangan sengaja dibakar Iim karena ketahuan KPK
Di dalam ruang sidang, Iim mengaku membakar catatan berisi seluruh penerimaan uang dari para kontraktor yang menjadi rekanan Dinas PUPR Jambi. Catatan itu dimusnahkan tak lama usai KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) bulan November lalu.

Penyidik lembaga antirasuah menduga ada pemberian uang suap dari Pemprov Jambi ke beberapa anggota DPRD. Uang itu diberikan untuk memuluskan pengesahan RAPBD Jambi tahun anggaran 2017-2018.

“Waktu OTT itu kami ketakutan, (jadi) catatannya kami bakar. Saya takut, Pak,” ujar Iim ke jaksa KPK.

Uang-uang tersebut dikumpulkan, kata IIm lagi, atas permintaan asisten pribadi Zumi yakni Apif Firmansyah. Iim pun termasuk pihak yang juga dimintai uang agar mendapat proyek di Pemprov Jambi. Selain dari rekanan kontraktor, fee juga dikumpulkan oleh Apif dan Iim dari Kepala Dinas Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Jambi.

2. Semua anggota DPRD Jambi terima uang ketok palu
Di dalam persidangan, jaksa dan majelis hakim juga mendengar pengakuan Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi, Dody Irawan, yang juga diminta untuk mengumpulkan uang dari para kontraktor oleh asisten pribadi Zumi, Apif Firmansyah. Salah satu tujuannya, agar bisa menyuap anggota DPRD Jambi.

“Uang dari kontraktor ini untuk seluruh anggota dewan. Imbalan atas anggaran atau uang ketok palu,” ujar Dody kemarin.
Anggota DPRD itu perlu disuap agar mereka mau menyetujui anggaran yang diminta oleh Zumi atau Pemprov Jambi. Proses pemberian uang itu dilakukan secara bertahap. Pertama, Rp 9 miliar untuk anggota DPRD. Sisanya sebesar Rp 4 miliar ditujukan bagi pimpinan DPRD dan badan anggaran (Banggar).

Yang mengejutkan hal itu justru diamini oleh Zumi. Padahal, sebelumnya, ia sempat membantah mendorong bawahannya agar memberikan uang suap ke anggota DPRD Jambi.

Zumi mengaku memang menugaskan Apif untuk melakukan pendekatan kepada pihak DPRD. Tetapi, belakangan, ia malah menafsirkan pendekatan itu dengan menggunakan uang.

“Awalnya (untuk mendekati) tidak pakai uang. Tapi, akhirnya Beliau (Apif) malah menyerahkan uang,” kata Zumi.

3. KPK akan mencermati fakta yang muncul di persidangan
Lalu, apa tanggapan KPK terhadap fakta-fakta mengejutkan yang muncul di persidangan? Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan jaksa akan mencermati setiap fakta yang muncul di persidangan. Namun, proses itu tidak akan dilakukan secara terburu-buru.

“Persidangan kan baru memasuki tahap awal. Nanti, kita simak bersama-sama fakta persidangannya. Kalau ada bukti baru yang mengindikasikan adanya keterlibatan pihak lain, tentu akan kami cermati,” kata Febri melalui keterangan tertulis pada hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *